1. HOME
  2. KABAR SEMARANG

Jelang dugderan, Disbudpar Kota Semarang gelar lomba Tari Warak Ngendog

"Ini adalah kegiatan dalam rangka menyambut datangnya bulan Ramadan."

Para peserta lomba Tari Warak Ngendog menampilkan tarian di hadapan juri di Balai Kota Semarang, Selasa (8/5).. ©2016 Merdeka.com Editor : Nur Salam | Contributor : Andi Kaprabowo | Selasa, 08 Mei 2018 15:24

Merdeka.com, Semarang - Ratusan peserta memeriahkan lomba Tari Warak Ngendog yang digelar oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Selasa (8/5). Mereka begitu antusias dan saling adu kemampuan untuk memikat dewan juri dan menjadi yang terbaik.

Lomba diikuti oleh peserta yang menjadi perwakilan dari 16 Kecamatan di Kota Semarang. Berbagai ragam kreasi Tari Warak Ngendog, binatang rekaan sebagai simbol akulturasi antar budaya di Kota Semarang ini ditampilkan oleh para peserta.

"Ini adalah kegiatan dalam rangka menyambut datangnya bulan Ramadan. Setiap tahun kami menggelar acara ini untuk meramaikan festival dugderan yang akan kami laksanakan pada 15 Mei nanti," kata Kepala Disbudpar Kota Semarang, Masdiana Safitri.

Masdiana menambahkan, sebanyak 16 kecamatan mengirimkan wakilnya dalam lomba tersebut. Mereka saling menampilkan tari kreasi Warak Ngendog dan memperebutkan juara.

"Kami mengambil tiga juara, yakni juara 1,2 dan 3. Selain nantinya mereka akan mewakili Kota Semarang dalam sejumlah kegiatan, kami juga memberikan uang pembinaan," terangnya.

Lebih lanjut Masdiana menambahkan, dia mengaku senang karena mayoritas peserta yang mengikuti lomba tersebut adalah anak-anak. Hal ini membuktikan jika kecintaan anak-anak terhadap budaya tradisional masih tinggi. "Kami harapkan kegiatan ini dapat memotivasi teman-teman di kecamatan untuk terus melestarikan kebudayaan tradisional," tukasnya.

Sementara itu, salah satu pemilik sanggar Kartika Budaya Ngaliyan, Andi Pramono mengapresiasi kegiatan lomba Tari Warak Ngendog tersebut. Menurut dia, acara tersebut merupakan bukti bahwa pemerintah peduli terhadap kelestarian budaya.

"Ini wujud nguri-uri (melestarikan) budaya yang dilakukan Pemkot Semarang. Saya sangat senang, apalagi saya lihat pesertanya banyak sekali yang masih remaja," terangnya.

Andi menambahkan, Warak Ngendog merupakan ciri budaya khas Kota Semarang. Ia merupakan perpaduan budaya antara etnis Jawa, Tionghoa dan Arab. "Ini bentuk akulturasi budaya. Anak-anak harus tahu mengenai budayanya, jadi kegiatan semacam ini harus sering dilakukan," ungkapnya.

(NS) Laporan: Andi Kaprabowo
  1. Peristiwa
  2. Pemkot Semarang
  3. Budaya
KOMENTAR ANDA