1. HOME
  2. PARIWISATA

Mengunjungi kampung suvenir di Tambakaji Ngaliyan

Usai ditetapkan sebagai kampung tematik, pesanan tambah melejit.

Ngayatini dan Parsidi menunjukkan hasil kerajinan tangan di rumahnya, kampung sovenir Tambakaji Ngaliyan, Rabu (7/2).. ©2016 Merdeka.com Editor : Nur Salam | Contributor : Andi Kaprabowo | Rabu, 07 Februari 2018 17:05

Merdeka.com, Semarang - Suasana berbeda terlihat di RT 3 RW 4 Kelurahan Tamabakaji Kecamatan Ngaliyan Kota Semarang, Rabu (7/2). Suasana kampung terlihat indah dengan cat berwarna-warni dan hiasan bunga-bunga di pinggir jalan.

Kampung tersebut mendadak terkenal setelah ditetapkan sebagai kampung suvenir. Penetapan kampung tematik oleh Pemkot Semarang itu dikarenakan sebagian besar masyarakat yang tinggal di kampung itu berprofesi sebagai pembuat aneka macam suvenir.

Ngayatini, 69, salah satunya. Istri Parsidi, 77, Ketua RW 4 Kelurahan Tambakaji Ngaliyan Semarang itu kini semakin sibuk memenuhi pesanan suvenir dari para pemesan. Dibantu suami, Ngayatini terus membuat aneka macam suvenir dari kain dan benang seperti sprei, sepatu, tas, kain keset, peci, bros dan aneka macam kerajinan tangan lainnya.

"Saya menekuni kerajinan ini sejak 2004 lalu. Tapi setelah Kampung ini ditetapkan sebagai kampung suvenir pada Januari lalu, pesanan semakin meningkat," kata Ngayatini, saat ditemui di rumahnya, Rabu (6/2).

Ngayatini mengaku, penetapan kampung tematik di lokasi itu membuat pesanan hasil kerajinannya semakin meningkat. Hal itu tentu membuatnya semakin semangat menekuni kesibukannya itu. "Awalnya hanya untuk stok dan dijual ke teman-teman, sekarang banyak pesanan masuk karena mulai saya jual online," terangnya tersenyum.

Ngayatini mengaku membuat aneka macam kerajinan tangan itu secara otodidak. Namun karena ketekunannya, dia mampu menghasilkan produk-produk kerajinan tangan yang cantik dan memiliki nilai ekonomis tinggi.

"Harga termurah mulai Rp 5000 sampai termahal Rp 300.000. Untuk yang murah seperti bros dan kerajinan kecil lainnya, sementara yang mahal itu untuk tas, sprei dan kerajinan besar yang cukup rumit pembuatannya," terangnya.

Tak hanya untuk dirinya sendiri, keahlian merajut benang dan kain menjadi barang kerajinan juga dia tularkan kepada tetangga sekampung. Alhasil, saat ini lebih dari enam orang tetangganya yang menekuni pekerjaan itu. "Setelah ditetapkan sebagai kampung souvenir ini, saya berharap akan semakin banyak warga yang tertarik menekuni pekerjaan ini," tegasnya.

Dia juga berharap Pemkot Semarang terus memberikan pendampingan. Selain membantu dalam bentuk promosi dan pemasaran, berbagai kegiatan pelatihan juga diharapkan terus dikembangkan.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Masdiana Safitri mengatakan, pihaknya memang terus mengebut dalam pembentukan kampung tematik di Kota Semarang. Saat ini, lebih dari 100 kampung yang telah ditetapkan sebagai kampung tematik.

"Dibentuknya kampung tematik bertujuan untuk mempercantik kampung yang dulunya tidak terkenal menjadi unik. Selain itu, kampung tematik juga bertujuan mengembangkan potensi masyarakat yang ada di sana," katanya.

Dengan ditetapkan sebagai kampung tematik, maka akan menjadi daya tarik wisatawan untuk datang ke kot Semarang. Sehingga diharapkan akan memberikan dampak pada perekonomian masyarakat.

(NS) Laporan: Andi Kaprabowo
  1. Ragam
KOMENTAR ANDA