1. HOME
  2. KULINER

Menikmati Sensasi Malam di Angkringan Jaten Gunungpati

"Jadi, Kalau Pasar Jaten Hanya buka Minggu Legi saja. Tapi Kalau Angkringan Pasar Jaten buka setiap hari."

Angkringan Pasar Jaten Gunungpati.. ©2016 Merdeka.com Editor : Nur Salam | Contributor : Andi Pujakesuma | Kamis, 25 Juli 2019 18:40

Merdeka.com, Semarang - Kota Semarang memiliki seabrek tempat wisata yang menarik. Salah satu yang sedang hits di Kota semarang adalah wisata bertema jadul tempo dulu.

Sah satu tempat yang menyajikan wisata tempo dulu di Kota Semarang terdapat di Kalialang Lama, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati. Nama lokasi itu adalah Angkringan Pasar Jaten Pinggir Kali.

Saat akan memasuki Jalan Kalialang Lama, memang kondisi jalanan tidak begitu terang. Ditambah dinginnya angin yang berembus, menambah keseruan tersendiri untuk mencapai lokasi tujuan.

Setibanya di lokasi, perjalanan yang panjang dan sedikit gelap, terbayarkan semua. Nyala puluhan lampu "Sentir" atau lampu minyak dan obor seakan menyambut perjalanan menuju ke Angkringan Pasar Jateng Pinggir Kali.

Nuansa tempo dulu di Pasar Jaten memang sangat kental terasa. Dengan aroma asap lampu minyak yang samar, ditambah suara gamelan yang berbunyi lirih dari alat musik organ menambah kesan nyaman di Pasar Jaten tersebut.

Menurut Siswanto, Penggagas Angkringan Pasar Jaten Pinggir Kali, Angkringan Pasar Jaten dimulai setahun lalu. Di mana saat itu Angkringan Pasar Jaten tidak sebesar dan setenar Sekarang. "Sebelumnya, Pasar Jaten terletak tidak jauh dari lokasi yang sekarang dan belum setenar sekarang," kata dia.

Siswanto bercerita, dulu sebelum ada Angkringan, hanya ada Pasar Jaten yang hanya buka di saat Minggu Legi. Namun Siswanto berpikir bagaimana caranya agar Pasar Jaten ini bisa lebih memberikan manfaat bagi warga kampung khususnya manfaat ekonomi. Lantas dirinya pun mengajak ibu-ibu yang berjualan di Pasar Jaten untuk berembug agar Pasar Jaten lebih memiliki manfaat bagi warga sekitar.

"Lha saat itu saya ajak ibu-ibu yang jualan di Pasar Jaten untuk halalbihalal di sini malam hari, kita nyalakan lampu sentir-sentirnya. Akhirnya muncullah gagasan Angkringan Pasar Jaten Pinggir Kali. Dan sampai saat ini alhamdulillah bisa memberi manfaat lebih bagi warga sekitar," ujarnya.

Siswanto pun mengakui, bahwa Angkringan Pasar Jaten berkonsep tempo dulu. Pengunjung akan disambut puluhan sentir dan gapura berbentuk gubug di area depan Angkringan. Meja dan tempat duduk pun terbuat dari kayu dan bambu. Tak ada satu pun terbuat dari bahan besi. Di tengah Pasar Jaten sendiri, Terdapat menara sekitar15 meter yang diberi nama "Menara Kepeng."

"Jadi, Kalau Pasar Jaten Hanya buka Minggu Legi saja. Tapi Kalau Angkringan Pasar Jaten buka setiap hari. Kalau malam sabtu, minggu dan senin sini ramai sekali," imbuhnya.

Dia menerangkan, sembari menikmati alunan musik dan nuansa tempo dulu, pengunjung dapat menikmati berbagai macam makanan dan minuman di Angkringan Pasar Jaten Pinggir Kali. Mulai dari kudapan berat, hingga cemilan khas Kota Semarang. Seperti Jagung bakar, telobakar, ndog cenil, sate kere, bakso, dan lainnya.

"Untuk harga pasti terjangkau. Karena kita memang menekankan pada para ibu-ibu yang jualan di sini untuk tidak pasang harga 'ngepruk' (harga mahal). Takutnya kalau mahal pengunjung komplain," kata Siswanto.

Saat ditanya jumlah pengunjung dan perputaran uang di Angkringan Pasar Jaten. Siswanto pun menerangkan, bahwa rata-rata pengunjung yang mengunjungi Angkringan Pasar Jaten sampai 200 orang. Itu belum di saat weekend, menurutnya jika weekend, pengunjung bisa sampai lebih dari 500 orang.

"Kalau perputaran uang di angkringan ini rata-rata perharinya kurang lebih bisa sampai Rp3 juta. Jadi kalau sebulan ya kurang lebih Rp100 jutaan. Itu kotornya," pungkasnya.

(NS) Laporan: Andi Pujakesuma
  1. Ragam
KOMENTAR ANDA