1. HOME
  2. KABAR SEMARANG

Kota Semarang masih miliki potensi besar di sektor peternakan

"Harapannya peternakan sapi ini bisa jadi penyangga bagi pemenuhan kebutuhan susu dan daging sapi di Kota Semarang."

Wakil Wali Kota Semarang Hevearita G Rahayu melihat peternakan sapi di Kecamatan Gunungpati Semarang. ©2016 Merdeka.com Editor : Nur Salam | Contributor : Andi Kaprabowo | Rabu, 04 Juli 2018 15:39

Merdeka.com, Semarang - Meski Kota Semarang telah menjadi kota metropolitan, namun Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang tidak melupakan sektor peternakan dan pertanian. Terbukti, sampai saat ini dua sektor tersebut masih terpelihara cukup bagus bahkan Kota Semarang masuk tiga wilayah di Jawa Tengah yang memiliki potensi di sektor pertanian dan peternakan.

Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu mengatakan, potensi pertanian dan peternakan di Kota Semarang masih besar. Untuk itu, dia mengaku bangga dengan kerja keras masyarakat di kota ini.

"Kami ikut bangga, karena di Provinsi Jawa Tengah, Kota Semarang masuk tiga besar wilayah potensial untuk peternakan sapi selain Kota Salatiga dan Kabupaten Semarang. Padahal Kota Semarang kan kota metropolitan, tapi potensi peternakan sapinya luar biasa," kata dia saat mengunjungi sentra peternakan sapi di Gunungpati Semarang, belum lama ini.

Menurut dia, di kota Semarang ada tiga wilayah kecamatan yang mempunyai potensi untuk peternakan sapi yakni, Kecamatan Mijen, Kecamatan Gunungpati dan Kecamatan Ngaliyan.

"Harapannya peternakan sapi ini bisa jadi penyangga bagi pemenuhan kebutuhan susu dan daging sapi di Kota Semarang. Bahkan nantinya kami berupaya agar bisa dikembangkan minimal di interline Semarang, kebutuhan susu dan daging sapi bisa terpenuhi," imbuhnya.

Lebih lanjut Hevearita menambahkan, Pemkot Semarang juga terus melakukan pembinaan terhadap kelompok-kelompok pertanian. Salah satunya Kelompok Tani Rejeki Lumintu. Sebagai kelompok tani binaan Pemkot Semarang, kelompok tani ini mampu mengembangkan ekonomi masyarakat dengan menciptakan beraneka produk pangan dan inovasi peternakan.

"Kelompok tani Rejeki Lumintu ini sangat luar biasa. Mereka tidak hanya menjadi peternak sapi, tetapi juga mengembangkan produk beras dan tanaman lain," terangnya.

Tak hanya peternak sapi, mereka juga membuat pupuk organik dari hasil peternakan itu. Secara mandiri melakukan pengobatan sapi sendiri, seperti membuat obat cacing, obat influeza, obat jika terjadi keracunan pada ternak.

Dia mengatakan, Pemkot Semarang berencana mengembangkan potensi peternakan Kelompok Tani Rejeki Lumintu dengan menjadikan integrasi minapolitan.

"Kami Pemerintah Kota Semarang berkeinginan mengembangkan potensi ini. Apalagi Kelompok Tani Rejeki Lumintu Kelurahan Sumurejo, rencananya akan dibuat minapolitan. Sehingga bisa terintegrasi antara perikanan, pertanian dan peternakan. Dan dapat meningkatkan taraf hidup para petani," tukasnya.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Rejeki Lumintu, Nurdi mengatakan jika hasil dari kelompok tani tak hanya berupa susu segar, namun juga ada daging dan tanaman organik.

"Jumlah anggota Kelompok Tani Rejeki Lumintu berjumlah 33 anggota dengan 150 ternak sapi. Tidak semuanya sapi perah, para peternak juga membudidayakan sapi daging. Untuk sapi perah hanya ada 50 ekor sapi produktif, setiap hari kelompok tani ini bisa memproduksi 400 liter," katanya.

Disamping mengelola susu sapi, kelompok tani ini juga mengelola pertanian. Ada yang membuat pupuk padat dan pupuk cair. Dengan memanfaatkan pupuk dari urin dan kotoran sapi, petani di Kelurahan Sumurrejo tak lagi kesulitan untuk mencari pupuk. Apalagi ketika harga pupuk kimia melambung tinggi.

"Potensi pertanian juga bagus, dulu petani kita pakai pupuk urea, tapi sekarang sudah pakai pupuk organik. Ini sangat mempengaruhi ekonomi, harga pupuk urea kan mahal. Nah, sama temen-temen kalau mau memanfaatkan pupuk organik sapi ini kan ndak beli," pungkasnya.

(NS) Laporan: Andi Kaprabowo
  1. Peristiwa
  2. Pemkot Semarang
KOMENTAR ANDA