1. HOME
  2. KABAR SEMARANG

Sumur abadi di Kota Lama, peninggalan sejarah yang airnya tak pernah kering

"Padahal daerah sini daerah rob, sumur-sumur lain airnya payau. Anehnya air sumur itu tawar dan dapat dikonsumsi,"

Widi Doglek,41, salah seorang penjual air keliling mengambil air di sumur abadi Kota Lama Semarang, Minggu (1/4).. ©2016 Merdeka.com Editor : Nur Salam | Contributor : Andi Kaprabowo | Minggu, 01 April 2018 14:24

Merdeka.com, Semarang - Kota Lama Semarang menyimpan sejumlah keunikan dan nilai-nilai sejarah. Tak hanya bangunan-bangunan tua yang melegenda, banyak hal unik serta bisa dikatakan ajaib ditemukan di daerah yang dikenal dengan sebutan Little Netherland ini.

Salah satunya adalah sumur abadi yang terletak di kawasan Taman Srigunting, dekat Gereja Blenduk Kota Lama. Kenapa disebut sumur abadi, sebab air yang ada di sumur tersebut tak pernah kering meski airnya selalu dipakai sehari-hari dan berada pada musim kemarau panjang sekalipun.

Tak hanya digunakan untuk keperluan dapur warga dan para pedagang di sejumlah pasar, seperti Pasar Johar, Pasar Kobong dan ribuan Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan itu, sumur abadi Kota Lama juga kerap digunakan Korps Pemadam Kebakaran Kota Semarang. Setiap ada musibah kebakaran melanda, puluhan truk tangki Pemadam Kebakaran (Damkar) berdatangan ke lokasi itu untuk mengambil air.

"Saya tidak tahu sejarah pastinya sumur ini, yang jelas menurut cerita yang berkembang, sumur ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu," kata Wadiyono, 53, salah satu warga yang memanfaatkan air sumur itu, Minggu (1/4).

Menurut cerita, lanjut dia, sumur tersebut merupakan peninggalan Belanda yang usianya sama dengan bangunan-bangunan yang ada di sini. Memang secara sekilas, sumur tersebut tidak ada bedanya dengan sumur lainnya. Namun yang membikin unik adalah airnya tak pernah kering meski hanya memiliki kedalaman sekitar 5 meter, air sumur tersebut juga tawar.

"Padahal daerah sini daerah rob, sumur-sumur lain airnya payau. Anehnya air sumur itu tawar dan dapat dikonsumsi," imbuhnya.

Selain itu, keajaiban sumur Kota Lama itu juga terlihat dari airnya yang tidak pernah meluap. Jika dilogika lanjut Wadiyono, jika sumur memiliki sumber air yang besar karena tidak pernah kering, seharusnya air dapat meluber.

“Namun sejak dahulu airnya selalu segitu. Setelah diambil truk pemadam kebakaran airnya menjadi berkurang. Sekitar setengah jam air kembali ke ukuran semula. Anehnya, airnya tak pernah lebih dari batas itu dan tak pernah meluber,” terangnya sambil tersenyum.

Tak hanya berjasa bagi warga sekitar dan Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang, air sumur ajaib Kota Lama juga membuat dapur sebagian orang terus mengepul. Banyak warga yang memanfaatkan air tersebut untuk dijual kepada masyarakat dan pedagang lain di Kota Semarang.

Widi Doglek, 41, warga asal Kabupaten Klaten yang berjualan air ini misalnya, sudah lebih dari 15 tahun dirinya menjadikan sumur ajaib Kota Lama sebagai sumber penghasilan sehari-hari. Dari segarnya air sumur ajaib itulah, dia mengambil dengan kaleng dan didorong menggunakan gerobak untuk disetorkan ke sejumlah pedagang yang berjualan di lokasi sekitar Kota Lama.

“Penghasilan saya hanya dari berjualan air ini, tidak ada pekerjaan lain. Untuk menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak-anak ya dari menjual air sumur ini,” kata Widi.

Widi mengaku memiliki tiga orang anak. Semua anaknya saat ini sedang menempuh pendidikan. Sulungnya sedang duduk di bangku SMA, sementara dua anak lainnya sedang duduk di bangu SD. “Alhamdulillah, bisa menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak-anak,” imbuhnya.

Widi mengaku setiap hari mengangkut air hingga 5-6 kali. Menggunakan gerobak dorongnya, dia mengangkut kaleng-kaleng untuk diisi air dan dijual kepada para pedagang dan warga yang membutuhkan.

“Satu kaleng saya jual Rp1000, sehari biasanya mendapat uang Rp50.000. Alhamdulillah karena untuk kerja ini saya tidak modal, karena airnya gratis dan tidak pernah habis,” pungkasnya.

(NS) Laporan: Andi Kaprabowo
  1. Ragam
KOMENTAR ANDA