1. HOME
  2. KABAR SEMARANG

Gerabah, mainan anak-anak khas Dugderan yang melegenda

“Jadi ingat masa kecil mainan gerabah bersama teman-teman untuk masak-masakan, pasar-pasaran dan sebagainya. Senang sekali rasanya,”

Pengunjung Dugderan melintas di stand-stand yang menjajakan gerabah, yakni permainan anak-anak tradisional yang terbuat dari tanah.. ©2016 Merdeka.com Editor : Nur Salam | Contributor : Andi Kaprabowo | Minggu, 13 Mei 2018 16:16

Merdeka.com, Semarang - Ramadan sebentar lagi. Di Kota Semarang, ada tradisi unik menjelang datangnya bulan suci ini, yakni Karnaval Dugderan. Sebuah karnaval yang selalu digelar sebagai wujud suka cita atas datangnya Bulan Ramadan.

Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang akan menggelar Pawai Karnaval Dugderan pada 15 Mei mendatang. Namun saat ini, di kawasan Masjid Agung Kauman Semarang atau kompleks Pasar Johar, sudah ramai dengan kegiatan Pasar Dugderan.

Di pasar tersebut, ada satu keunikan yang selalu ditemui, yakni maraknya penjual aneka mainan dari gerabah. Mainan berbagai bentuk seperti celengan, mangkuk, piring, kendi, pot bunga yang dicat warna-warni itu selalu dijajakan pedagang di bahu-bahu jalan.

Kehadirannya selalu menambah semarak peringatan Dugderan karena bentuknya yang lucu dan penuh warna mencolok. Gerabah memang tidak bisa dilepaskan dari perayaan Dugderan. Setiap masyarakat yang mengunjungi Dugderan, selalu memburu barang khas Dugderan itu. Bahkan tidak hanya satu, mereka seringkali membeli dalam jumlah besar.

“Buat mainan anak-anak. Memang setiap Dugderan selalu mencari gerabah di sini,” kata Septiana, 27, warga Tugurejo Semarang saat ditemui di lokasi Pasar Dugderan, Minggu (13/5).

Septiana mengaku, jika gerabah yang dibelinya itu selalu digunakan anak-anaknya untuk bermain. Selain itu, dirinya selalu teringat masa kecilnya saat dulu sering diajak orang tuanya membeli mainan tradisional itu di setiap kali Dugderan.

“Jadi ingat masa kecil mainan gerabah bersama teman-teman untuk masak-masakan, pasar-pasaran dan sebagainya. Senang sekali rasanya,” imbuhnya sambil tersenyum.

Sementara itu, sejarawan Kota Semarang Djawahir Muhammad mengatakan jika tradisi Dugderan sudah ada sejak 1886 silam. Dugderan digunakan sebagai media untuk mengabarkan dimulainya puasa Ramadan.

“Jadi banyak masyarakat waktu itu berkumpul di Masjid Kauman Semarang untuk mendengarkan pengumuman dari Bupati Semarang waktu itu, yakni Kanjeng Raden Mas Tumenggung Aryo Purboningrat. Untuk menunggu pengumuman itu, biasanya mereka berkumpul di alun-alun. Nah hal itulah yang membuat munculnya pasar malam dan banyak penjual mainan anak-anak disana,” ujarnya.

Mainan anak-anak yang saat itu dijual bukanlah seperti yang saat ini merebak. Semuanya berasal dari buatan tangan manusia, seperti gerabah, mobil-mobilan dari kayu, gangsing, warak ngendhog dan sebagainya.

“Karena masyarakat banyak yang menunggu pengumuman itu dan membawa serta anak-anaknya, dibuatlah pasar malam. Banyak yang berjualan saat itu termasuk mainan tradisional gerabah,” imbuhnya.

Dia menyebutkan, berbagai mainan tradisional termasuk gerabah yang saat ini dijual saat pelaksanaan Dugderan di Kota Semarang, merupakan saksi bisu tradisi itu. Untuk itu, pihaknya berharap jika pemerintah Kota Semarang terus melestarikan tradisi itu.

“Di tengah era globalisasi dan serbuan mainan modern saat ini, pemerintah harus terus melestarikan permainan tradisional seperti gerabah ini. Soalnya ia adalah saksi bisu sejarah Dugderan di Kota Semarang. Kalau perlu pemerintah tidak hanya membuat stand saat Ramadan, namun setiap hari disediakan tempat bagi pengrajin mainan tradisional itu agar terus eksis,” pungkasnya.

(NS) Laporan: Andi Kaprabowo
  1. Peristiwa
  2. Ragam
  3. Budaya
KOMENTAR ANDA