1. HOME
  2. PROFIL

Mengenal Heri 'Sudrun,' pengrajin kerajinan dari lidi asal Kota Semarang

Berawal dari iseng, kini jadi penghasilan menggiurkan.

Heri 'Sudrun' dan hasil kerajinannya. ©2016 Merdeka.com Editor : Nur Salam | Contributor : Andi Kaprabowo | Selasa, 25 September 2018 18:22

Merdeka.com, Semarang - "Banyak jalan menuju Roma." Pepatah itu yang diyakini oleh Heri 'Sudrun,' laki-laki berusia 48 tahun ini. Bagaimana tidak, dia mampu bangkit dari keterpurukan ekonomi dengan ide kreatifnya.

Ditemani sang istri, Narni, 46, Heri kini bisa menikmati manisnya hidup. Melalui kerajinan tangan dari lidi yang dibuatnya, penghasilan yang diperolehnya dapat digunakan untuk menghidupi keluarganya.

Ditemui di Kawasan Kota Lama Semarang, Heri menceritakan jika dia menekuni dunia kerajinan dari lidi sejak tujuh bulan lalu. Awalnya, dia bekerja serabutan dengan penghasilan yang pas-pasan.

"Kerja serabutan, cuci motor, buruh bangunan dan kerja kasar lainnya. Hasilnya hanya cukup untuk makan, kadang malah hutang," kata Heri mengawali obrolan.

Kondisi itu membuat Heri berpikir keras agar keluar dari zona kemiskinan. Dengan berkah Tuhan, dia diberikan jalan mengais rejeki dengan ide dan kreativitasnya, yakni membuat barang-barang seni berbahan lidi.

"Awalnya melihat lidi milik istri saya, kemudian saya potong-potong dan rekatkan dengan lem. Tidak menyangka bisa jadi barang seni bagus seperti replika sepeda, becak, mobil-mobilan bahkan perahu layar," terangnya.

Setelah itu dia mengaku menekuninya. Tidak disangka, benda seni buatannya laku keras dan banyak dipesan orang. "Harganya bervariasi, mulai puluhan ribu hingga jutaan rupiah tergantung tingkat kerumitan pembuatannya," tukasnya.

Heri mengaku memilih bahan lidi karena dapat dijumpai di semua tempat. Selain itu, proses pembuatannya juga tidak sulit dan tidak membutuhkan peralatan yang aneh-aneh.

"Kalau dari kayu kan harus ada gergaji dan peralatan lainnya. Selain itu harganya juga mahal. Kalau lidi kan di semua tempat ada dan harganya murah," tambahnya.

Heri menjelaskan, proses pembuatannya tidaklah rumit. Hanya lidi yang dipotong-potong kemudian dilem dengan bentuk yang diinginkan.

"Saya belajar otodidak, bentuk-bentuk hasil kerajinan saya juga dari angan-angan saja, tidak belajar dari apapun termasuk dari internet," tambahnya.

Disinggung untuk proses pembuatannya, Heri mengaku prosesnya cukup mudah. Untuk pembuatan seperti sepeda atau becak, hanya dibutuhkan waktu sekitar seminggu. "Sementara kalau pembuatan perahu layar itu, butuh waktu cukup lama, bisa sampai sebulan," tegasnya.

Barang-barang seni hasil kreasinya itu, lanjut Heri, banyak dibeli oleh para wisatawan dan kolektor. Bahkan, banyak pula pembeli yang berasal dari luar negeri yang memesan benda seninya itu.

"Tamu-tamu bule yang berkunjung ke Kota Lama sering membeli karya saya. Lama-lama pesanan banyak," ucapnya.

Ke depan, Heri berkeinginan untuk terus mengembangkan kreasinya itu. Ia juga ingin memiliki galeri sendiri untuk memajang benda seni hasil karyanya. "Juga sebagai tempat untuk mengajari anak-anak muda yang ingin belajar seni dari lidi," tutupnya.

Sementara itu, Narni mengaku bersyukur dengan kondisi perekonomian keluarganya saat ini. "Ini berkah yang Tuhan berikan kepada kami," ucapnya.

(NS) Laporan: Andi Kaprabowo
  1. Ragam
KOMENTAR ANDA