1. HOME
  2. KABAR SEMARANG

Pendidikan harus jadi benteng kuat hadapi era disrupsi

“Tugas lembaga pendidikan hari ini ialah membentuk manusia yang siap menyesuaikan diri dengan adanya disrupsi."

Yudi Latif di pada seminar nasional Keindonesiaan III di UPGRIS. Foto/Humas UPGRIS. ©2016 Merdeka.com Editor : Nur Salam | Kamis, 13 September 2018 16:10

Merdeka.com, Semarang - Pendidikan menjadi benteng terakhir untuk menghadapi era disrupsi. Seperti diketahui pada era disrupsi perubahan terjadi begitu cepat dengan diiringi perkembangan teknologi yang begitu laju. Bagi yang tak mampu menyesuaikan diri dengan perubahan atau gagap teknologi akan terlibas dan tertinggal.

Hal itu disampaikan oleh Pemikir Pancasila dan Kebangsaan Yudi Latief di sela seminar kebangsaan “Penguatan SDM di Era Disrupsi Teknologi melalui Pendidikan” yang digelar Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Keolahragaan dan Rekreasi (FPIPSKR) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) di Gedung Pusat Lantai 7, Kamis (13/09).

Menurutnya, benteng pendidikan harus mampu mengokohkan kembali karakter dan kepribadian yang bermuara pada pembentukan kecerdasan personal dan kolektif. Lewat pendidikan berkarakter semacam itulah masyarakat Indonesia mampu bertahan dari perubahan pesat di bidang teknologi dan globalisasi.

Khususnya pada sisi negatif dari pesatnya perkembangan teknologi dan informasi yang terjadi saat ini, kehadiran media sosial yang semula ditujukan untuk mempererat hubungan antar manusia, justru memiliki dampak negatif menjadi penampung ujaran kebencian, hoax yang mudah sekali tersebar secara luas.

“Tugas lembaga pendidikan hari ini ialah membentuk manusia yang siap menyesuaikan diri dengan adanya disrupsi. Lembaga pendidikan tidak ditujukan untuk mencetak batu bata, yang artinya hanya siap pakai untuk tenaga kerja. Tetapi buatlah seperti tanah liat. Menghadapi perubahan dengan gesit,” ujarnya seperti dikutip dari release Humas UPGRIS.

Mantan kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menyampaikan, secara konkret pendidikan hari ini haruslah menghasilkan manusia yang pembelajar. “Belajar sepanjang hidup, seperti kata Ki Hajar Dewantara,” imbuhnya.

Yudi merasa miris mendapati Bangsa Indonesia kini tengah menjadi bangsa “mega sosial media.” Kemudahan komunikasi bukannya menyatukan rasa kesatuan berbangsa, justru melemahkan. “Di masa lalu, di zaman yang serba terbatas, rasa kebangsaan kita justru kuat. Jong Sumatranen Bond, Jong Java, Jong Sunda, dan jong yang lainnya, rela mengesampingkan perbedaan demi bangsa dan negara,” ucap penulis buku Negara Paripurna ini.

Yudi berpandangan, masyarakat Indonesia perlu meneguhkan kembali pemahaman Pancasila berdasar 3T. Pertama, Pancasila sebagai titik temu yang berarti sebagai penyatu; Pancasila sebagai titik pijak, yang artinya sebagai landasan dalam besikap, berbangsa, dan bernegara; dan terakhir Pancasila sebagai titik tuju, yang maksudnya adalah Pancasila sebagai tujuan dan cita-cita hidup bersama Bangsa Indonesia.

Sementara itu, Rektor Universitas PGRI Semarang Muhdi menilai, seminar tersebut sangat sesuai dengan kondisi di tengah bangsa saat ini. “Suasananya sangat tepat untuk membicarakan Pancasila. Kondisi politik hari ini sudah pada tahap saling larang-melarang kebebasan berpendapat masing-masing individu untuk bicara,” bebernya.

(NS)
  1. Pendidikan
KOMENTAR ANDA