1. HOME
  2. KABAR SEMARANG

Tiru kota di Eropa, Kota Lama akan bersih dari kabel udara

"Kalau saat ini kan terlihat semrawut, karena kabelnya masih di atas. Nantinya akan di tanam di ducting itu sehingga akan terlihat bersih..."

Salah satu sudut di kawasan Kota Lama Semarang. ©2016 Merdeka.com Editor : Nur Salam | Contributor : Andi Kaprabowo | Jum'at, 09 Februari 2018 17:03

Merdeka.com, Semarang - Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang terus mengebut penataan kawasan Kota Lama. Langkah itu dilakukan menyusul bahwa lokasi itu akan menjadi salah satu kota warisan dunia yang ditetapkan oleh UNESCO. Diantara kebijakan penataan yang diterapkan adalah membersihkan kabel-kabel instalasi publik yang terpasang di udara dengan meniru konsep penataan pada kota-kota di Eropa.

Sampai saat ini, proses penataan kawasan yang dikenal dengan sebutan Little Netherland itu terus digarap. Bantuan anggaran datang dari berbagai pihak, khususnya dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Pembangunan yang ditargetkan selesai Desember 2018 itu akan menghabiskan Rp135 miliar.

Ketua Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L) Semarang yang juga Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu mengatakan, pada tahun ini pihaknya fokus pada pembangunan Kota Lama dengan bantuan dari Kementerian PUPR. "Pembangunannya meliputi jalan, drainase pembuatan polder di dua titik, dan infrastruktur lainnya," katanya.

Hevearita menerangkan, untuk pembangunan jalan di Kota Lama nantinya mengadopsi konsep di Eropa, di mana sistem jalan menyatu dengan drainase yang berada di bawah tanah. Kemudian juga dibuat ducting yang berfungsi sebagai tempat kabel dan jaringan lainnya.

"Sehingga, nantinya kawasan Kota Lama Semarang akan bersih dari kabel jaringan listrik yang menggantung. Hal itu juga yang menjadi pertimbangan agar Kota Lama tidak (terlihat) semrawut. Kalau saat ini kan terlihat semrawut, karena kabelnya masih di atas. Nantinya akan di tanam di ducting itu sehingga akan terlihat bersih dan indah. Jadi nantinya, kawasan kota lama akan bebas kabel pada 2019," paparnya.

Dari semua pembangunan yang dilakukan di Kota Lama, Hevearita menyebutkan jika pembangunan yang paling mencolok adalah pembuatan polder di bundaran Bubakan. Bundaran yang saat ini berupa taman, akan diubah menjadi polder yang digunakan untuk menampung air.

Polder tersebut juga sebagai langkah penanganan banjir yang selama ini menjadi momok di kawasan tersebut. Dari Polder itu, nantinya air akan dibuang ke sungai Semarang melalui saluran ducting. "Di Polder Bubakan nantinya akan dilengkapi dengan empat air mancur. Sehingga selain sebagai pengendali banjir, juga menjadi area bermain dan objek wisata," jelasnya.

Selain polder Bubakan, nantinya juga akan dibangun kolam retensi di daerah Berok. Kolam tersebut diharapkan menjadi pengendali banjir yang sering terjadi di area titik nol KM.

Di lain sisi, Satuan Kerja PUPR, Dwiatma Singgih Raharja menambahkan, proses pembangunan kawasan Kota Lama Semarang saat ini sampai tahapan koordinasi perencanaan ducting. Pembuatan ducting tidak bisa dilakukan secara langsung karena melibatkan beberapa pihak.

"Awalnya akan membuat dua ducting kemudian berubah jadi empat. Itu untuk Telkom, APJI, PDAM, dan PLN. Sehingga butuh perencanaan detil mengenai pembuatan ducting-nya," kata Singgih.

Koordinasi tersebut dimaksudkan untuk mengetahui secara pasti berapa kebutuhan ducting. Meskipun semua ruas jalan di Kota Lama akan dipasang, namun beberapa jalan membutuhkan koordinasi dengan pihak terkait.

"Sejauh ini pembangunan masih on the track. Kalau tanpa ducting, pembangunan bisa lebih cepat. Namun, pembangunan ini kan harus terintegrasi sehingga dibuat terlebih dahulu ducting-nya. Baru ke pengerjaan drainase dan jalan," paparnya.

(NS) Laporan: Andi Kaprabowo
  1. Cagar Budaya
  2. Infrastruktur
  3. Pemkot Semarang
KOMENTAR ANDA