1. HOME
  2. PROFIL

Ajarkan tradisi pada anak, dua pria ini ciptakan wayang dari pelepah pisang

"Ya intinya ingin menghibur dan mengenalkan wayang kepada anak-anak,"

Suryo Cahyono sedang menghibur anak-anak dengan memainkan Wayang Gebog karyanya.. ©2016 Merdeka.com Editor : Nur Salam | Contributor : Andi Kaprabowo | Minggu, 11 Maret 2018 15:39

Merdeka.com, Semarang - Seiring berkembangnya zaman, generasi saat ini memang tak begitu lekat dengan kesenian maupun budaya tradisional. Anak-anak generasi milenial lebih memilih hal-hal yang berbau moderen. Baik permainan, maupun budaya-budaya asing yang masuk ke negeri ini.

Hal itulah yang dirasakan oleh Suryo Cahyono dan Teguh Arif Romadhani, dua warga Kecamatan Ngaliyan Kota Semarang. Agar anak-anak tetap mengenal budaya tradisional, keduanya melakukan berbagai kreasi dan inovasi. Salah satunya adalah menyulap gedebog (pelepah) pisang menjadi wayang yang diberi nama Wayang Gebog. Melalui media ini, keduanya menularkan nilai-nilai kehidupan, cinta alam dan seni kepada anak-anak.

Wayang yang dibuat Suryo Cahyono dan Teguh Arif Romadhani ini memang tidak seperti biasanya. Keduanya membuatnya dengan bahan pelepah pisang dan potongan bambu. Dua bahan ini banyak ditemukan di desa dan perkampungan pinggiran kota.

"Pohon pisang itu mengambarkan proses regenerasi, sebelum mati mereka akan menumbuhkan tunas baru. Mungkin itulah yang memberikan ide kepada saya untuk bagaimana mewariskan seni tradisional kepada generasi penerus," kata Suryo, Minggu (11/3).

Wayang Gebog yang mereka buat itu digunakan untuk menghibur anak-anak kecil di berbagai daerah. Keduanya sering berjalan-jalan ke berbagai lokasi dan setiap menemukan segerombolan anak kecil, mereka langsung perform dadakan. "Ya intinya ingin menghibur dan mengenalkan wayang kepada anak-anak," paparnya.

Suryo mengatakan, ide pembuatan Wayang Gebog tersebut tidak datang begitu saja. Dia butuh waktu selama enam bulan baru bisa menemukan media Wayang Gebog. Awalnya, dia hanya membuat wayang secara sederhana. Namun setelah jadi, wayang tidak bertahan lama karena selalu kempis dan busuk.

Kemudian dia mencoba lagi dengan cara mengeringkan pelepah pisang itu terlebih dahulu, setelah itu lalu dianyam dengan penambahan media bambu. Akhirnya bisa, berwujud Wayang Gebog tersebut, yang semuanya sengaja diberikan untuk menarik minat anak-anak.

“Proses pembuatannya relatif cepat. Dalam sehari bisa buat Wayang Gebog sekitar 3 tokoh, semua tergantung dari ketersediaan bahan-bahannya,” ujarnya.

Sementara itu, Teguh Arif Romadhoni menambahkan, keduanya sengaja menggunakan media Wayang Gebog agar lebih menarik minat dan lebih mudah mendekat dengan anak-anak. Selain itu, bahan pembuatannya juga melimpah dan bisa ditemui di berbagai tempat. “Usai latihan, kami juga mengizinkan anak-anak memainkan wayang sendiri,” terangnya.

Melalui media Wayang Gebog itu, dia berharap agar anak-anak dapat menyerap pesan moral dari setiap cerita-ceritanya. Teguh sendiri selalu menyelipkan pemahaman mengenai menjaga kelestarian alam dan menanamkan moral kehidupan.

"Dalam seminggu sekali, kami rutin menggelar workshop atau pertunjukan Wayang Gebog di berbagai lokasi. Namun demikian, pementasannya masih sederhana, yakni dengan cara mengajak anak-anak untuk memainkan peran sesuai dengan kesukaan mereka," terang dia.

(NS) Laporan: Andi Kaprabowo
  1. Budaya
KOMENTAR ANDA